Jakarta, 20 Maret 2026 — Konflik bersenjata antara Amerika Serikat bersama Israel melawan Iran telah memasuki hari ke-21 dan terus mengalami eskalasi dramatis. Serangan terbaru menargetkan infrastruktur energi strategis, termasuk ladang gas South Pars (ladang gas alam terbesar di dunia yang dibagi Iran dan Qatar), menyebabkan harga minyak Brent melonjak hingga mendekati $119 per barel dan mengganggu lalu lintas kapal di Selat Hormuz.
![]() |
| Selat Hormuz Hampir Tutup Total: Indonesia Bisa Krisis BBM Besar-Besaran! |
Menurut laporan BBC dan Reuters, Israel melakukan serangan udara ke ladang gas South Pars pada 19 Maret 2026, yang diklaim sebagai respons terhadap serangan balasan Iran. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa Israel "bertindak sendiri" dalam serangan tersebut dan akan mematuhi permintaan Presiden AS Donald Trump untuk tidak mengulangi serangan serupa terhadap fasilitas energi Iran. Namun, Iran langsung membalas dengan meluncurkan rudal ke kilang minyak di Kuwait dan Arab Saudi, serta menyerang target di Teluk Persia.
CNN melaporkan bahwa serangan ini memaksa negara-negara Teluk menghadapi pilihan sulit: tetap netral atau bergabung dalam konflik. Beberapa negara Teluk semakin frustrasi karena dampak ekonomi yang ditimbulkan, sementara harga gas alam dan minyak global terus naik karena kekhawatiran pasokan terganggu. Analis dari Goldman Sachs memperingatkan bahwa harga minyak bisa melampaui $100 per barel hingga 2027 jika konflik berlanjut.
Presiden Trump, dalam pertemuan dengan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi, membandingkan serangan ke Iran dengan "Pearl Harbor", dan menekankan bahwa AS tidak memberi tahu sekutu terlebih dahulu untuk alasan keamanan. Survei Reuters/Ipsos menunjukkan sebagian besar warga Amerika percaya Trump akan mengirim pasukan darat ke Iran, meski mayoritas menentang ide tersebut.
Dampak global semakin terasa: lalu lintas kapal di Selat Hormuz turun drastis (hanya sekitar 100 kapal lewat sejak awal Maret menurut BBC Verify), memicu kekhawatiran krisis pangan di negara berkembang karena biaya transportasi naik. AP News melaporkan "hujan hitam beracun" (toxic black rain) akibat serangan ke depot minyak, yang memicu peringatan dari WHO dan OHCHR bahwa hal ini mungkin melanggar hukum perang.
Konflik ini dimulai pada 28 Februari 2026 dengan serangan mendadak AS-Israel yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei dan puluhan pejabat senior. Iran kemudian membalas dengan serangan rudal dan drone ke Israel serta basis AS di kawasan, yang kini meluas ke negara Teluk. Mojtaba Khamenei, putra almarhum, telah ditunjuk sebagai Pemimpin Tertinggi baru Iran.
Situasi ini menjadi topik paling dibahas di media internasional karena risiko perang regional yang lebih luas, krisis energi dunia, dan implikasi geopolitik jangka panjang. Banyak analis memperingatkan bahwa eskalasi ini bisa memicu resesi global jika pasokan energi terganggu lebih parah.
Sumber utama:
- BBC News (world section & live updates)
- Reuters (Middle East coverage)
- CNN (Iran war live blog)
- AP News (energy market & strikes reports)
- NBC News (Gulf nations dilemma)
Perang Iran 2026, AS-Israel vs Iran, South Pars diserang, harga minyak meledak, Selat Hormuz, krisis energi global, Trump Iran, black rain beracun, dampak perang Timur Tengah, berita internasional 2026

