Di pelosok Kalimantan Barat, tepatnya di Kabupaten Sambas, ada cerita nyata tentang perjuangan dakwah yang penuh ketabahan. Seorang Dai Penyuluh Agama Islam (Dai 3T) dari Program Kementerian Agama RI menempuh perjalanan jauh – kadang hanya dengan perahu kecil menyusuri sungai-sungai sempit – demi menyampaikan ajaran Islam kepada masyarakat di desa terpencil. Kisah ini bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan bukti bahwa dakwah bisa dimulai dari yang paling sederhana: sebuah perahu, semangat, dan keyakinan.
![]() |
| Dari Perahu Menembus Sungai hingga Berdiri Masjid Desa: Kisah Perjuangan Dai 3T di Sambas, Kalimantan Barat |
Perjalanan Dimulai dari Sungai yang Menantang
Kabupaten Sambas dikenal dengan hamparan sungai dan hutan yang masih lebat. Banyak desa di wilayah ini hanya bisa dijangkau melalui jalur air, terutama saat musim hujan ketika jalan darat sering terendam. Dai 3T ini – yang identitas lengkapnya dirahasiakan demi keselamatan dan fokus pada misi – memulai tugasnya dengan naik perahu motor kecil. Perjalanan bisa memakan waktu berjam-jam, bahkan seharian penuh, melewati arus sungai yang deras dan cuaca tak menentu.
“Awalnya saya hanya membawa Al-Qur’an kecil, buku saku fiqih, dan semangat. Tidak ada listrik stabil, sinyal handphone sering hilang, tapi justru di situlah panggilan dakwah terasa paling kuat,” ujar sang dai dalam wawancara dengan tim Kemenag.
Dari Ceramah di Teras Rumah hingga Berdakwah di Masjid Desa
Pada awal kedatangannya, masyarakat desa menyambut dengan rasa penasaran sekaligus ragu. Banyak warga yang jarang mendapatkan penyuluhan agama secara rutin. Ustaz Thifal tidak langsung mendirikan majelis ta’lim besar; ia mulai dari hal kecil: menyapa warga rumah ke rumah, mengajak anak-anak berkumpul di masjid atau surau yang sudah ada untuk belajar membaca Al-Qur’an, membimbing tata cara salat, dan memahami ajaran Islam secara sederhana.
Lama-kelamaan, kehadirannya membawa perubahan. Anak-anak mulai hafal surah pendek, ibu-ibu rajin mengikuti pengajian, dan para pemuda tergerak untuk memperbaiki akhlak. Aktivitas dakwah intensif dilakukan di masjid desa yang existing: mengajar mengaji, memberikan kultum, memimpin salat berjamaah, serta mendampingi kegiatan ibadah seperti di bulan Ramadan. Seusai salat tarawih, ia duduk santai bersama warga sambil minum kopi, di mana mereka berbagi pertanyaan dan keluh kesah.
Tantangan dan Hikmah di Balik Dakwah 3T
Program Dai 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal) Kementerian Agama memang dirancang untuk menjangkau wilayah yang sulit diakses. Di Sambas, tantangan bukan hanya medan geografis, tapi juga keterbatasan ekonomi warga, minimnya pemahaman agama dasar, dan kadang resistensi budaya lokal.
Namun, justru dari tantangan itulah muncul hikmah besar: dakwah yang tulus, sabar, dan tanpa pamrih akan membuka hati. Sang dai tidak hanya mengajar ilmu agama, tapi juga menjadi teladan dalam kehidupan sehari-hari – membantu warga saat sakit, ikut membersihkan lingkungan, hingga mendampingi konflik keluarga.
Pesan untuk Kita Semua
Kisah ini mengingatkan kita bahwa dakwah tidak selalu butuh panggung besar atau teknologi canggih. Kadang cukup dengan perahu sederhana, niat ikhlas, dan ketekunan. Di era digital saat ini, perjuangan dai 3T di pelosok Sambas menjadi pengingat bahwa Islam tersebar melalui sentuhan hati, bukan hanya kata-kata.
Jika Anda tertarik dengan sejarah dakwah di Nusantara atau kisah perjuangan ulama di wilayah 3T lainnya, baca juga artikel kami tentang Sejarah Kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia atau Sejarah Kerajaan Hindu di Indonesia.
Semoga kisah ini menginspirasi kita untuk lebih peduli terhadap saudara-saudara di daerah terpencil. Mari sebarkan kebaikan, walau hanya dari langkah kecil.
FAQ: Kisah Dakwah Dai 3T di Sambas – Dari Perahu hingga Masjid Desa
Apa itu Program Dai 3T Kementerian Agama?
Siapa Ustaz Thifal Hadi Abdul Haq dalam kisah ini?
Mengapa dai harus naik perahu untuk berdakwah?
Apa saja kegiatan dakwah yang dilakukan di desa?
Apakah masjid desa dibangun baru oleh dai?
Apa tantangan terbesar dai 3T di wilayah seperti Sambas?
Bagaimana respons masyarakat terhadap kehadiran dai?
Apa hikmah utama dari kisah ini?
Bagaimana cara mendukung program Dai 3T?
FAQ ini disusun berdasarkan laporan resmi Kemenag dan kisah nyata dai di Sambas. Semoga menambah wawasan tentang perjuangan dakwah di Nusantara.



