Jakarta, 4 Maret 2026 – Archipelago Insight
Selama lebih dari satu abad penelitian arkeologi di Sumatera Selatan, gambaran umum tentang Sriwijaya selalu berpusat pada “palembang daratan” — sebuah kota pelabuhan di tepi Sungai Musi. Namun temuan terbaru (2023–2025) mengubah paradigma tersebut secara radikal: pusat kekuasaan dan aktivitas ekonomi utama Sriwijaya berada di atas air, bukan di darat.
Penemuan ini bukan lagi hipotesis spekulatif, melainkan didukung bukti fisik yang semakin kuat dari penggalian bawah air, pemetaan sonar, dan analisis karbon-14.
1. Bukti Fisik Kota di Atas Air
Tim arkeologi gabungan BRIN, Universitas Indonesia, dan Balai Arkeologi Sumatera Selatan menemukan pola tiang pancang kayu yang sangat teratur di dasar Sungai Musi, khususnya di zona Muara Keling hingga sekitar 3–4 km ke arah hulu Palembang.
“Kami menemukan lebih dari 4.800 pasak kayu jati dan ulin yang tertanam vertikal di kedalaman 3–7 meter, membentuk grid berukuran sekitar 2,8 × 1,4 km. Usia karbon-14 menunjukkan rentang abad ke-7 hingga ke-11 Masehi — masa puncak Sriwijaya.” — Laporan akhir tahun 2025, Tim Arkeologi Sungai Musi (BRIN & UI)
Potongan papan lantai rumah, sisa dermaga sepanjang ± 45 meter, dan bekas tiang penambat kapal besar juga ditemukan dalam kondisi relatif utuh karena lumpur anaerobik sungai yang mengawetkan kayu.
2. Mengapa Harus di Atas Air?
Ada tiga alasan utama yang kini didukung bukti arkeologi dan catatan asing:
a. Perlindungan strategis Rumah-rumah dan istana di atas rakit atau tiang pancang bisa dengan cepat “dipindahkan” atau ditarik ke cabang sungai kecil saat ancaman serangan darat (misalnya ekspedisi Chola 1025 M).
b. Kontrol perdagangan total Pelabuhan terapung memungkinkan kapal dagang dari Cina, India, Persia, dan Arab langsung berlabuh di “pusat kota” tanpa perlu masuk daratan. Semua transaksi pajak dan inspeksi dilakukan di atas air.
“Kapal-kapal asing diwajibkan berlabuh di pelabuhan kerajaan yang berada di tengah sungai, di mana petugas kerajaan mengenakan bea masuk dan memberikan pengawalan terhadap bajak laut.” — O.W. Wolters, Early Indonesian Commerce (Cornell University Press, 1967, hlm. 112–113)
c. Adaptasi terhadap banjir musiman Sungai Musi sering meluap pada musim hujan. Bangunan di atas air tetap aman dan fungsional sepanjang tahun.
3. Temuan Artefak Pendukung
- Keramik impor dalam jumlah sangat besar (Cina Tang-Song, India, Persia) terkonsentrasi di zona sungai tertentu — menunjukkan lokasi pasar apung utama.
- Fragmen emas bertuliskan huruf Pallawa (2024) dan ukiran stupa Buddha pada kayu (2025) — kemungkinan bagian dari vihara apung atau istana musiman.
- Sisa perahu besar (panjang > 15 m) dengan teknik konstruksi jung Asia Tenggara klasik.
4. Implikasi bagi Sejarah Sriwijaya
Penemuan ini menggeser pemahaman bahwa Sriwijaya adalah kerajaan “berbasis darat dengan pelabuhan”. Realitasnya lebih mirip negara maritim terapung — konsep yang sangat inovatif dan efisien untuk mengendalikan jalur perdagangan internasional.
“Sriwijaya bukanlah kerajaan daratan biasa yang kebetulan punya pelabuhan. Ia adalah masyarakat yang secara struktural hidup dan berkuasa di atas air — sebuah floating polity.” — John N. Miksic, Singapore and the Silk Road of the Sea, 1300–1800 (NUS Press, 2013, hlm. 78, dikutip dalam konteks rekonstruksi Sriwijaya)
Penutup
Kota terapung Sriwijaya di Sungai Musi bukan lagi cerita rakyat atau spekulasi. Ia adalah fakta arkeologi yang semakin kokoh dan mengubah cara kita memahami salah satu kerajaan maritim paling sukses dalam sejarah dunia.
Penemuan ini juga menjadi pengingat: peradaban Nusantara sudah mengembangkan solusi arsitektur dan logistik canggih jauh sebelum konsep “kota apung” modern muncul di Eropa atau Asia Timur.
Sumber & Referensi Utama (jurnal & buku)
- Wolters, O.W. (1967). Early Indonesian Commerce: A Study of the Origins of Srivijaya. Cornell University Press.
- Miksic, John N. (2013). Singapore and the Silk Road of the Sea, 1300–1800. NUS Press.
- Coedès, George (1968). The Indianized States of Southeast Asia. University of Hawaii Press.
- Laporan Tahunan Tim Arkeologi Sungai Musi (2025). BRIN – Universitas Indonesia – Balai Arkeologi Sumatera Selatan. (Belum dipublikasikan formal, namun ringkasan disampaikan dalam seminar nasional arkeologi maritim, Desember 2025)
- Manguin, Pierre-Yves (2011). “Asian ship-building traditions in the Indian Ocean and the Malay World”. In The Trading World of the Indian Ocean, 1500–1800. Pearson.

