Jakarta, 3 Maret 2026 – Archipelago Insight
Dua kerajaan besar Nusantara yang paling sering dibandingkan sebagai kekuatan maritim adalah Sriwijaya (abad 7–13) dan Majapahit (abad 13–16). Keduanya pernah menguasai jalur perdagangan penting, memiliki armada laut besar, dan memengaruhi wilayah yang sangat luas.
Namun jika kita bandingkan secara khusus dari sisi kekuatan maritim (bukan kekuatan darat atau luas wilayah total), jawabannya tidak sesederhana “Majapahit lebih besar”. Mari kita bedah satu per satu menggunakan data sejarah, catatan asing, dan temuan arkeologi terkini.
| Aspek | Sriwijaya (puncak abad 8–11) | Majapahit (puncak abad 14) | Pemenang Maritim |
|---|---|---|---|
| Durasi penguasaan Selat Malaka | ~350–400 tahun (dominasi hampir tanpa saingan) | ~150–200 tahun (bersaing dengan Melaka & Tiongkok) | Sriwijaya |
| Sistem pajak/perdagangan laut | Pajak kapal asing wajib (tol laut) + perlindungan armada | Upeti barang dari vassal + ekspedisi militer sporadis | Sriwijaya |
| Armada laut | Ribuan kapal dagang + perang (jung besar, catatan Cina) | Ribuan kapal (ekspedisi besar, tapi lebih fokus darat) | Sriwijaya |
| Jangkauan perdagangan | India – Cina – Arab – Madagaskar – Afrika Timur | Nusantara – Malaya – Champa – sebagian Filipina | Sriwijaya |
| Stabilitas rute maritim | Selat Malaka relatif aman selama berabad-abad | Selat Malaka mulai dikuasai Melaka setelah 1400 | Sriwijaya |
| Pengaruh bahasa & budaya laut | Bahasa Melayu Kuno jadi lingua franca perdagangan Asia | Bahasa Jawa Kuno dominan di darat, pengaruh laut terbatas | Sriwijaya |
| Bukti arkeologi maritim | Banyak situs pelabuhan (Palembang, Jambi, Barus, Kedah) | Situs utama di darat (Trowulan), pelabuhan kurang jelas | Sriwijaya |
| Catatan asing | Catatan Cina, Arab, India sangat banyak & detail | Catatan Cina & Eropa ada, tapi lebih sedikit & terlambat | Sriwijaya |
Penjelasan Singkat Tiap Aspek
- Durasi Penguasaan Selat Malaka Sriwijaya mengendalikan selat tersebut hampir tanpa gangguan selama 3–4 abad. Majapahit baru benar-benar dominan sekitar 100–150 tahun (pada masa Hayam Wuruk), dan setelah itu kekuasaan lautnya cepat melemah karena kemunculan Kesultanan Malaka.
- Sistem Pajak & Perlindungan Perdagangan Sriwijaya menerapkan sistem tol laut yang sistematis: kapal asing wajib berlabuh, bayar pajak, dan mendapat perlindungan armada dari bajak laut. Majapahit lebih mengandalkan upeti vassal daripada sistem pajak perdagangan reguler.
- Armada Laut Catatan Dinasti Song & Ming menyebut Sriwijaya memiliki ribuan kapal dagang dan perang. Majapahit memang punya ekspedisi laut besar (ke Palembang, Lampung, Sunda), tetapi fokus utamanya tetap ekspansi darat di Jawa.
- Jangkauan Perdagangan Sriwijaya tercatat sampai ke Madagaskar dan pantai timur Afrika (bukti linguistik & arkeologi). Jangkauan Majapahit lebih terbatas pada Nusantara dan Semenanjung Malaya.
- Stabilitas & Keamanan Rute Selat Malaka pada masa Sriwijaya relatif aman selama berabad-abad. Pada masa Majapahit akhir, selat sudah mulai dikuasai Malaka dan bajak laut semakin aktif.
Kesimpulan: Siapa yang Lebih Kuat sebagai Kerajaan Maritim?
Jika kita bicara kekuatan maritim murni (penguasaan jalur perdagangan laut, stabilitas rute, sistem pajak laut, durasi dominasi, dan pengaruh bahasa perdagangan), maka Sriwijaya secara jelas lebih unggul dibandingkan Majapahit.
Majapahit memang kerajaan yang jauh lebih besar secara wilayah dan populasi, serta memiliki puncak kejayaan yang spektakuler, tetapi orientasi utamanya adalah daratan Jawa dan ekspansi agraris-militer, bukan dominasi laut jangka panjang seperti Sriwijaya.
Sriwijaya = juara maritim jangka panjang Majapahit = juara kekaisaran darat + maritim jangka pendek
Keduanya luar biasa dengan caranya masing-masing — dan keduanya membuktikan bahwa Nusantara sudah menjadi pusat perdagangan dunia sejak lebih dari 1.000 tahun lalu.
Sumber & Referensi Utama
- Wolters, O.W. – Early Indonesian Commerce (1967)
- Coedès, George – The Indianized States of Southeast Asia (1968)
- Miksic, John N. – Singapore and the Silk Road of the Sea (2013)
- Slamet Muljana – Nagarakretagama dan Tafsir Sejarahnya (1979)
- Laporan arkeologi Sumatera Selatan & Jawa Timur (BRIN & Balai Arkeologi, 2020–2025)

