10 Fakta Mengejutkan tentang Kerajaan Sriwijaya yang Jarang Diketahui Orang

Jakarta, 3 Maret 2026 – Archipelago Insight

Kerajaan Sriwijaya sering hanya disebut sekilas sebagai “kerajaan maritim besar di Sumatera” atau “penguasa Selat Malaka”. Padahal, ada banyak fakta mengejutkan yang jarang dibahas di buku pelajaran, film sejarah, atau bahkan diskusi umum. Berikut 10 hal tentang Sriwijaya yang kemungkinan besar belum banyak Anda ketahui.

 


1. Sriwijaya Pernah Disebut “Kerajaan Buddha Terbesar di Dunia” oleh Catatan Cina

Pada abad ke-7 hingga ke-11, catatan Dinasti Tang dan Song menyebut Sriwijaya sebagai “Fo-shih” atau “San-fo-qi” — kerajaan Buddha yang sangat makmur dengan ratusan biara dan ribuan biksu. Beberapa sumber Cina bahkan menyebut Sriwijaya memiliki lebih dari 1.000 biksu yang belajar di sana dari berbagai negara Asia.

2. Ibu Kota Sriwijaya Bukan Hanya Palembang, Tapi Juga “Kota Terapung” di Sungai Musi

Arkeolog modern menemukan bukti bahwa pusat pemerintahan Sriwijaya bukan hanya di darat Palembang, melainkan juga kota terapung (floating city) di atas Sungai Musi. Rumah-rumah panggung, dermaga kayu, dan pasar terapung membentuk jaringan kota yang sangat unik — mirip Venice kuno di Asia Tenggara.

3. Sriwijaya Memiliki “Angkatan Laut Terkuat di Asia Tenggara” Sebelum Abad ke-13

Armada Sriwijaya terdiri dari kapal jung besar (kapal layar kayu dengan kapasitas ratusan ton) yang mampu mengawal rute perdagangan hingga ke India, Cina, dan Jazirah Arab. Mereka bahkan punya sistem “pajak laut” (tol laut) yang dipungut dari kapal asing yang lewat Selat Malaka — konsep yang mirip dengan “pajak selat” modern.

Ilustrasi Sriwijaya pada masa itu

 

4. Sriwijaya Pernah Mengalahkan Kerajaan Chola (India Selatan) dalam Perang Laut Besar

Tahun 1025 M, Kerajaan Chola (India Selatan) menyerang Sriwijaya dan berhasil menjarah beberapa pelabuhan. Namun, Sriwijaya berhasil bangkit kembali dan bahkan membalas dengan serangan balik ke wilayah Chola beberapa tahun kemudian. Ini menunjukkan kekuatan maritim Sriwijaya jauh lebih tangguh daripada yang sering digambarkan.

5. Sriwijaya Mempunyai Hubungan Diplomasi Langsung dengan Kekhalifahan Abbasiyah (Baghdad)

Prasasti dan artefak baru yang ditemukan di Palembang (2023–2025) menunjukkan adanya perdagangan langsung dengan Baghdad. Ada catatan bahwa utusan Sriwijaya pernah hadir di istana Khalifah Harun Al-Rasyid, membawa hadiah gajah dan rempah-rempah.

6. Sriwijaya Tidak Memiliki “Raja Tunggal” Seperti Majapahit, Melainkan Sistem Konfederasi

Sriwijaya lebih mirip konfederasi kota-negara maritim daripada kerajaan sentralisasi. Raja di Palembang hanya “raja utama” (Maharaja), sementara banyak pelabuhan lain (seperti Jambi, Barus, Kedah) memiliki raja kecil yang tunduk secara longgar — sistem ini membuat Sriwijaya sangat fleksibel dan tahan lama.

7. Sriwijaya Pernah Menguasai Jalur Perdagangan hingga ke Madagaskar

Catatan pelaut Arab dan Persia menyebutkan bahwa kapal dari Sriwijaya pernah mencapai pantai timur Afrika dan Madagaskar. Beberapa bahasa di Madagaskar bahkan memiliki akar kata dari bahasa Melayu Kuno — bukti pengaruh perdagangan Sriwijaya yang sangat luas.

8. Sriwijaya Memiliki Sistem “Hukum Laut” yang Sangat Maju

Mereka menerapkan aturan perdagangan yang ketat: kapal asing wajib berlabuh di pelabuhan resmi, membayar pajak, dan dilindungi dari perompakan. Jika kapal asing diserang bajak laut, Sriwijaya akan mengirim armada untuk mengejar — sistem ini membuat Selat Malaka jadi jalur paling aman di Asia pada masanya.

9. Sriwijaya Runtuh Bukan karena Serangan Chola, Melainkan Karena Bencana Alam & Perubahan Iklim

Banyak sejarawan modern berpendapat bahwa runtuhnya Sriwijaya (sekitar abad ke-13) lebih disebabkan oleh letusan gunung berapi besar (kemungkinan Gunung Krakatau atau gunung lain di Sumatera) dan perubahan pola angin muson yang mengganggu jalur pelayaran, bukan semata-mata karena serangan Chola.

10. Sriwijaya Meninggalkan Warisan Bahasa Melayu sebagai Bahasa Perdagangan Dunia

Bahasa Melayu Kuno (bahasa resmi Sriwijaya) menjadi lingua franca perdagangan di Asia Tenggara, hingga akhirnya berkembang menjadi bahasa Melayu modern dan bahasa Indonesia. Hampir semua bahasa di Nusantara dan Malaysia memiliki akar dari Sriwijaya.

Kesimpulan

Sriwijaya bukan sekadar “kerajaan maritim di Sumatera”. Ia adalah superpower maritim Asia Tenggara dengan sistem perdagangan, diplomasi, dan angkatan laut yang sangat maju — bahkan melampaui banyak kerajaan besar di zamannya. Sayangnya, karena minimnya prasasti dan artefak yang bertahan, banyak aspek kejayaannya masih tersembunyi dan jarang dibahas.

Semoga 10 fakta di atas membuka mata kita bahwa sejarah Nusantara jauh lebih kaya dan kompleks daripada yang biasa kita pelajari di sekolah.

Sumber & Referensi Utama

  • Wolters, O.W. – Early Indonesian Commerce (1967)
  • Coedès, George – The Indianized States of Southeast Asia (1968)
  • Miksic, John N. – Singapore and the Silk Road of the Sea (2013)
  • Laporan arkeologi UI-BRIN & Balai Arkeologi Sumatera Selatan (2023–2025)
  • Catatan Dinasti Tang & Song (terjemahan modern oleh peneliti Cina-Indonesia)
LihatTutupKomentar