Jakarta, 4 Maret 2026 – Archipelago Insight
Pertanyaan ini sering muncul di diskusi keluarga, medsos, atau majelis taklim: “Kenapa orang Indonesia kalau shalat pakai peci dan baju koko, tapi di Arab pakai thobe? Mana yang bener?”
Jawabannya singkat: Tidak sama. Tradisi Islam di Indonesia dan Arab memang berpijak pada sumber yang sama (Al-Quran & Sunnah), tapi ekspresi budayanya sangat berbeda. Banyak praktik di Indonesia adalah hasil akulturasi budaya Nusantara (Jawa, Melayu, Minang, dll.) dengan Islam, sementara di Arab lebih dipengaruhi adat Jazirah Arab.
Berikut perbandingan jelas antara yang merupakan tradisi budaya lokal vs yang benar-benar dari Sunnah (ajaran Nabi Muhammad ï·º yang shahih):
| No | Praktik / Tradisi | Di Indonesia | Di Arab (khususnya Saudi & Teluk) | Termasuk Sunnah? | Penjelasan Singkat |
|---|---|---|---|---|---|
| 1 | Tahlilan / Kenduri / Selamatan | Sangat umum (7 hari, 40 hari, 100 hari, haul) | Hampir tidak ada atau dianggap bid’ah | Tidak | Tradisi Jawa + pengaruh Hindu-Buddha. Tidak ada dalil shahih dari Nabi. |
| 2 | Maulid Nabi (peringatan kelahiran Nabi) | Dirayakan besar (maulid, shalawatan, rebana) | Dilarang atau dianggap bid’ah oleh pemerintah Saudi | Tidak | Muncul setelah abad ke-3 Hijriah. Tidak ada riwayat Nabi merayakan kelahirannya. |
| 3 | Tabuhan rebana & musik di acara Islam | Umum di pesisir Jawa, Sumatra, dll. | Dilarang atau sangat dibatasi | Tidak | Tradisi Melayu-Nusantara. Sunnah Nabi tidak melarang musik secara mutlak, tapi banyak ulama Saudi mengharamkan. |
| 4 | Ziarah kubur + tabur bunga & doa bersama | Sangat umum (ziarah wali, kuburan keluarga) | Dibatasi ketat, tidak boleh tabur bunga | Sebagian Sunnah | Ziarah kubur dianjurkan (untuk ingat mati), tapi tabur bunga, nyalakan lilin, dll adalah tambahan budaya lokal. |
| 5 | Pakaian koko/pecikopi vs thobe/ghutra | Baju koko & peci identik dengan Muslim Indonesia | Thobe panjang & ghutra/shemagh khas Arab | Tidak | Sunnah Nabi: menutup aurat & pakaian sederhana. Model baju adalah budaya lokal, bukan syariat. |
| 6 | Pembacaan Barzanji / Qasidah Burdah | Sangat populer di majelis taklim & maulid | Jarang atau dianggap bid’ah oleh sebagian | Tidak | Puisi pujian kepada Nabi yang muncul setelah wafatnya beliau. Tidak ada Sunnah membacanya rutin. |
| 7 | Shalat Tarawih 20 rakaat + witir 3 rakaat | Umum di NU & mayoritas masjid Indonesia | Mayoritas 8 rakaat + witir (mazhab Hanbali/Saudi) | Ada perbedaan pendapat | Sunnah Nabi: 8 rakaat + witir (riwayat Bukhari). 20 rakaat dari Umar bin Khattab (ijtihad sahabat). |
| 8 | Slametan hamil 7 bulan / tingkeban | Masih ada di masyarakat Jawa | Tidak ada | Tidak | Tradisi pra-Islam Jawa yang diislamkan. Tidak ada dalil shahih. |
Kesimpulan
- Yang dari Sunnah (ajaran Nabi yang shahih & wajib): shalat lima waktu, puasa Ramadan, zakat, haji, membaca Al-Quran, dzikir, akhlak mulia, dll. → ini sama di seluruh dunia Islam.
- Yang tradisi lokal: hampir semua praktik tambahan di atas (tahlilan, maulid besar-besaran, tabuhan rebana, slametan, dll) adalah hasil akulturasi budaya Nusantara dengan Islam, bukan ajaran wajib dari Sunnah.
Islam di Indonesia justru menjadi salah satu bukti terindah bahwa agama ini universal: bisa hidup harmonis dengan budaya setempat tanpa mengubah inti ajaran. Bukan berarti semua tradisi lokal otomatis benar atau salah — yang penting dicek: apakah ada dalil shahih dari Al-Quran & Sunnah, atau hanya warisan budaya yang tidak bertentangan dengan syariat.
Apa pendapatmu? Tradisi seperti tahlilan atau maulid itu bid’ah yang harus dihilangkan, atau justru memperkaya Islam di Nusantara? Share di kolom komentar ya!
Sumber & Referensi Utama
- Al-Quran (terjemahan resmi Kementerian Agama RI)
- Shahih Bukhari & Muslim (kitab shalat tarawih, ziarah kubur, khutbah wada’)
- Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVIII (Mizan, 1994)
- M.C. Ricklefs, A History of Modern Indonesia since c. 1200 (Stanford University Press, 2008)

