Archipelago insight, 21 Maret 2026 – Lebanon kembali dilanda perang yang dirasakan "berbeda" oleh warganya, hanya 18 bulan setelah konflik besar sebelumnya dengan Israel. Konflik ini meletus pada 2 Maret 2026, ketika Hezbollah meluncurkan proyektil dan drone ke Israel sebagai balasan atas kematian Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei. Israel langsung membalas dengan bombardir masif, menewaskan lebih dari 1.000 orang di Lebanon sejak saat itu, termasuk setidaknya 111 anak-anak menurut Kementerian Kesehatan Lebanon.
Militer Israel merilis rekaman dari persiapan Brigade Golani untuk operasi darat yang ditargetkan di selatan Lebanon selama seminggu terakhir. Dipotong dari Video |
Artikel CNN berjudul "It’s been 18 months since the last war. This time it’s different" menggambarkan betapa konflik kali ini terasa lebih mengerikan dibandingkan perang sebelumnya. Bom Israel tidak hanya menyasar selatan Lebanon (basis Hezbollah), tapi juga mencapai Beirut pusat, pinggiran Kristen, dan area pengungsi dengan serangan presisi yang menargetkan jendela tunggal tanpa peringatan. Serangan di desa Irkay menewaskan lima anak berusia 6–13 tahun beserta kakek-nenek dan dua paman mereka—rumah mereka rata dengan tanah tanpa indikasi target militer.
Mohammed Rida Taqi, ayah dari empat anak yang tewas di Irkay, berkata dengan getir: “Apakah ada martir Hezbollah di sini? Kami hanya keluarga biasa.” Ia menambahkan, “Rakyat selatan tidak tunduk pada Israel maupun Amerika yang mendukung mereka dengan senjata.”
Perbedaan Utama dengan Perang Sebelumnya
- Intensitas dan Jangkauan: Bombardir lebih berat dan meluas, termasuk serangan ke fasilitas listrik dan solar farm di Tyre pada 4 Maret. Pasukan darat Israel (seperti Brigade Golani) maju ke desa-desa selatan, dengan perintah evakuasi luas.
- Teror Psikologis: Serangan presisi di Beirut membuat warga selalu waspada terhadap notifikasi WhatsApp atau suara ledakan. Seorang warga Beirut, Kim Moawad (38), mengaku: “Kami hidup menunggu pesan peringatan. Kadang malah kecewa kalau tidak ada serangan, karena sudah siap mental.”
- Dampak Sipil: Lebih dari 1 juta orang mengungsi internal, menciptakan kamp darurat di pinggir jalan Beirut dan tenda di tepi pantai dekat lokasi ledakan pelabuhan 2020. UNHCR khawatir trauma ini berubah jadi kemarahan antar-komunitas dan ketegangan sektarian.
- Opini Publik Berubah: Banyak warga Lebanon menyalahkan Hezbollah karena menyeret negara ke perang demi Iran. Seorang mekanik di Beirut, Sako Demirjiane, bilang: “Anak-anak dan bayi mati sia-sia. Apa hubungannya dukungan ke Iran dengan kami?”
Juru bicara IDF internasional, Nadav Shoshani, membela operasi: “Hezbollah sengaja menempatkan warga sipil di garis tembak. Kami lakukan segala upaya menghindari korban sipil, tapi perang punya harga berat—seperti di Gaza.”
Situasi Kemanusiaan Makin Parah
- Banyak keluarga pengungsi dari pinggiran selatan Beirut (basis Hezbollah) ditolak sewa rumah karena stigma sektarian.
- Bantuan internasional terhambat karena pemotongan dana UNHCR oleh pemerintahan Trump AS.
- Perwakilan UNHCR Karolina Lindholm Billing menyatakan: “Saya bekerja hampir 30 tahun, tapi belum pernah sekhawatir ini. Risiko shock berubah jadi kemarahan dan konflik komunitas sangat nyata.”
Lebanon, negara yang sudah rapuh akibat krisis ekonomi dan ledakan pelabuhan 2020, kini menghadapi trauma baru. Sanaa Ghosn, seorang nenek di tempat penampungan Beirut, meratap: “Lebanon dulu makmur. Sekarang hancur, tak ada Lebanon lagi. Semoga apa yang terjadi di Gaza tidak menimpa kami.”
Konflik ini merupakan bagian dari perang lebih luas AS-Israel melawan Iran dan proksinya. Hezbollah terus melancarkan serangan balasan, tapi Israel bertekad "menyelesaikan pekerjaan" dengan melemahkan milisi tersebut sepenuhnya.
Update terkini: Serangan berlanjut di selatan Lebanon, dengan Israel memperluas operasi darat untuk menciptakan zona penyangga. Warga Lebanon berharap diplomasi internasional segera menghentikan eskalasi sebelum negara ini benar-benar runtuh.
Sumber utama: CNN International (21 Maret 2026) – Lebanon: It’s been 18 months since the last war. This time it’s different. Berita ini ditulis ulang secara independen untuk konteks Indonesia.